View : 80 kali


Berita Gereja dan Dunia 2017
Rabu, 25 Oktober 2017

Kejeniusannya Membuat Stephen Hawking Justru Menjadi Ateis, Bagaimana dengan Einstein?

Kejeniusannya Membuat Stephen Hawking Justru Menjadi Ateis, Bagaimana dengan Einstein?



Pernahkah Anda bertanya tentang bagaimana spiritualitas dari seorang ilmuwan? Astrofisikawan seperti Stephen Hawking menyatakan dirinya adalah ateis.

Ketidakpercayaan adanya Tuhan itu muncul justru setelah ia makin intens menyelami sains, terutama kosmos. Bagaimana dengan ilmuwan lain? Salah satu ilmuwan yang membuat dunia penasaran adalah Albert Einstein. Keduanya sama-sama jenius, dan astrofisikawan hebat.

Stephen Hawking mengatakan, sains menawarkan penjelasan yang lebih masuk akal tentang asal-usul alam semesta daripada agama.

Ia pernah menyatakan pandangannya tersebut dalam wawancara dengan koran Spanyol, El Mundo, 21 September 2014.

"Sebelum kita mengenal sains, natural untuk percaya bahwa Tuhan mengenal alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan," kata Hawking.

Dalam wawancara itu, El Mundo bertanya maksud pernyataan Hawking dalam bukunya yang fenomenal, A Brief History of Time.

Dalam buku itu, Hawking menyatakan, dengan mempersatukan sains dan agama, manusia akan memahami "pikiran Tuhan". El Mundomenanyakan apa yang dimaksud dengan pikiran Tuhan.

Hawking menjawab, "Kita akan tahu pikiran Tuhan, artinya kita akan tahu apa yang Tuhan tahu. Itu kalau Tuhan ada, tapi Tuhan tidak ada. Saya ateis."

Hawking beberapa kali memberikan pernyataan yang menunjukkan bahwa dia ateis. Dia pernah mengatakan, alam semesta diatur oleh hukum pengetahuan. Tuhan mempunyai hukum, tetapi tidak akan mengintervensi kalau ada yang melanggar.

Tahun 2011, Hawking menyatakan pada The Guardian bahwa ia tak percaya surga. Baginya, surga adalah untuk orang-orang yang takut kegelapan.

Dikutip situs IBTimes, Minggu (28/9/2014), Hawking menyatakan, "Menurut saya, tidak ada aspek realitas melampaui realitas yang bisa dipahami manusia."

Minggu (8/1/2017) bulan Januari 2017 lalu bertepatan dengan 75 tahunStephen Hawking. Sebagai manusia yang menderita penyakit langka, Amyothrophy Lateral Sclerosis (ALS), Hawking fenomenal karena bisa bertahan hidup lama dan menghasilkan karya yang berdampak besar.

Meneliti kosmologi, menulis beragam buku, seperti A Brief History of Time dan The Universe in a Nutshell, serta hadir di sejumlah acara publik, Hawking banyak berbagi kisah hidupnya dan memberikan kata-kata yang menginspirasi.

Salah satu kata-katanya mungkin bisa menjadi nasihat bagi putra-putri Anda. Jurnalis ABC, Diane Sawyer, pada Juni 2010 pernah menanyakan tentang apa yang ingin dikatakan Hawking pada generasi muda yang kini menghadapi masalah yang lebih kompleks.

Ia mengatakan, "Satu, ingat untuk selalu melihat bintang dan tidak ke kakimu. Dua, jangan menyerah dalam bekerja. Pekerjaan memberimu arti dan tujuan, hidup tak akan berarti tanpanya. Tiga, jika kamu beruntung menemukan cinta, ingat, cinta ada di sana dan jangan sia-siakan."

Dalam buku Stephen Hawking: My Brief History yang terbit tahun 2013, Hawking memberikan nasihat kepada orang dengan keterbatasan fisik secara khusus, dan juga manusia secara umum yang tak satu pun sempurna.

"Saya percaya orang dengan keterbatasan seharusnya berkonsentrasi melakukan yang tetap bisa dikerjakan dengan kursi roda dan tidak menyesali hal lain yang tidak bisa dilakukan," katanya.

Dengan kata lain, jangan menyesal karena memiliki kelemahan, tetapi fokus mengembangkan diri dengan apa yang dimiliki.

Hawking juga mengajari untuk pantang menyerah. Sesaat setelah peluncuran A Brief History of Time, Hawking mengatakan, "Jadilah orang yang selalu bertanya. Sesulit apa pun hidup, akan selalu ada sesuatu yang bisa kamu kerjakan dan mengantarkan pada keberhasilan. Penting bagimu untuk tidak menyerah."

Menderita ALS sejak usia 21 tahun dan sempat divonis hanya bisa bertahan selama 2 tahun, Hawking hidup dengan bayang-bayang kematian. Namun, ia ternyata tak takut kematian.

"Saya telah hidup dengan prospek mati lebih awal selama 49 tahun. Saya tidak takut kematian. Namun, saya juga tidak ingin mati dengan cepat. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan dalam hidup saya," ujar dia.

Hawking tidak percaya hidup setelah mati. Ia mengatakan, "Kehidupan setelah mati hanya untuk orang yang takut kegelapan."

Hawking yang "berbeda" dengan manusia umumnya karena keterbatasannya juga mempunyai kutipan yang mengajak untuk tidak mendiskriminasi. "Kita semua berbeda. Tidak ada yang bisa disebut sebagai standar manusia. Namun, kita semua berbagi semangat kemanusiaan yang sama."

Hawking mengajak manusia untuk sadar tantangan masa depan. Hal itu diutarakan lewat tulisannya di The Guardian pada 1 Desember 2016 lalu.

"Kita sekarang memiliki teknologi untuk menghancurkan planet kita, tetapi belum mengembangkan teknologi untuk lari. Dalam ratusan tahun ke depan, kita mungkin bisa mengolonisasi area bintang lain, tetapi sekarang kita hanya punya satu planet, dan kita perlu bekerja sama untuk melindungi. Untuk melakukannya, kita perlu menghancurkan sekat-sekat, bukan malah menambah," ujarnya.

Selain kata-kata yang menginspirasi, Hawking juga kerap mengungkapkan pandangannya yang kontroversial, terutama tentang Tuhan.

Hawking mengatakan, "Saat orang bertanya apakah Tuhan menciptakan alam semesta, saya mengatakan bahwa pertanyaan itu tak masuk akal. Waktu tak eksis sebelum big bang, jadi tak ada waktu bagi Tuhan untuk menciptakan semesta."

Hawking juga pernah ditanya tentang cara rekonsiliasi sains dan agama, tetapi ia malah mengatakan, "Ada perbedaan mendasar antara agama yang berbasis kekuasaan dan sains yang berbasis observasi. Sains akan menang karena bisa bekerja."

Albert Einstein

Einstein lahir dan dibesarkan dalam lingkungan beragama Yahudi. Beberapa orang yakin ia masih memegang teguh agama tersebut.

Namun, benarkah demikian? Atau, apakah dia sama seperti Hawking?

Apa yang sebenarnya dipercayai oleh Einstein?

Pada Januari 1936, seorang gadis yang masih duduk di sekolah dasar menulis surat untuk Einstein.

Phyllis, nama gadis itu, bertanya pada Einstein apakah ilmuwan bisa percaya pada sains dan agama sekaligus.

Surat yang ditulis Phyllis saat kelas sekolah minggu itu, juga mempertanyakan apa yang ilmuwan doakan.

Beberapa hari kemudian Einstein pun membalas surat dari gadis kelas enam tersebut.

Dalam surat balasannya, Einstein mengatakan ilmuwan percaya bahwa setiap kejadian terjadi karena hukum alam.

Oleh karena itu, ilmuwan tidak bisa percaya jika peristiwa terjadi karena dipengaruhi doa atau terwujud secara supranatural.

Meski begitu, ia juga mengakui bahwa pengetahuan ilmuwan tentang kekuatan dunia ini tidak sempurna. Dengan demikian, orang masih harus bergantung dengan yang namanya "iman".

Einstein juga menyebutkan orang yang serius mengejar ilmu pengetahuan juga percaya bahwa beberapa "roh" terwujud dalam hukum alam yang jauh lebih unggul dari manusia.

Dengan begitu, pengejaran ilmu pengetahuan mengarah pada perasaan religius atau spiritualitas yang istimewa.

Ia juga menambahkan perasaan religius ini berbeda dengan religiusitas kebanyakan orang.

Secara eksplisit, dalam surat tersebut Einstein memberikan isyarat bahwa ia penganut panteisme, yang gagasan utamanya "Tuhan adalah segalanya".

Hal tersebut senada juga sempat ia ekspresikan pada seorang rabbi bernama Herbert S. Goldstein.

"Aku percaya pada Tuhannya Spinoza, yang mengungkapkan dirinya dalam harmoni alam semesta, bukan Tuhan yang memperhatikan dirinya sendiri dengan takdir dan perbuatan manusia," katanya seperti yang dikutip dalam Big Think, Jumat (29/9/2017).

Ia juga mengungkapkan bahwa ia terpesona pada panteisme Spinoza.

Panteisme dapat didefinisikan sebagai keyakinan bahwa semuanya identik dengan Tuhan. Beberapa orang dengan pandangan ini percaya Tuhan adalah alam semesta, kosmos, atau segala hal menjadi satu dengan Tuhan.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa esensi Ilahi ada dalam segala hal tanpa menjadi bagian dari Tuhan.

Panteisme Spinoza yang diyakini Einstein sendiri berpendapat bahwa alam semesta ini identik dengan Tuhan.

Meski menganut panteisme, Einstein tetap mempertahankan tradisi Yahudi tertentu, walaupun dalam tradisi Yahudi, ia sering dipandang ateis.

Einstein juga lebih senang disebut agnostik dan tidak suka disebut ateis. Ia menganggap orang-orang yang menyamakan sifat Tuhan dengan perilaku manusia adalah tindakan naif.

Dengan kata lain, Einstein adalah seorang humanis sekuler. Pandangannya tentang Tuhan, kehidupan, dan alam semesta lebih rumit dari kebanyakan orang.

source: tribunnews.com


Label:  Berita Tentang Gereja 2017 


Arsip Berita Gereja dan Dunia 2017:

Kamis, 26 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Seratusan Umat Lintas Agama Berkumpul di Gereja di Salatiga, Ini yang Mereka Bahas

Kamis, 26 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
200 tahun GPIB Beth-El Magelang. Fotografer dan sketser sumbangkan karyanya.

Selasa, 24 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Hotel Kiamat di Korea Utara

Jumat, 20 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Lukisan Yesus Karya Leonardo da Vinci Diragukan Keasliannya

Jumat, 20 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Christo Kalumata Melayani Untuk Tuhan

Jumat, 20 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Mantan Pegawai Google Bikin Agama Baru - Way of the Future

Selasa, 17 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Jelang HUT Brimob Ke-72, Brimob Turun ke Jalan Bersihkan Sampah

Sabtu, 07 Oktober 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Pesan Darurat Kiamat di TV AS Bikin Pemirsa Kaget

Selasa, 26 September 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
Gereja Agar Ikut Berperan Aktif dalam Pembangunan di Papua Barat

Minggu, 17 September 2017
Berita Gereja dan Dunia 2017
RENUNGAN MINGGU: Kasih yang Unlimited Oleh Pastor Andre Rumajar

Arsip Berita Gereja dan Dunia 2017..




Last Searches:

Kategori Utama: Artikel dari Majelis Sinode GPIB (226), Artikel Rohani (23), Berita Gereja dan Dunia (1331), Berita Gereja dan Dunia 2012 (47), Berita Gereja dan Dunia 2013 (412), Berita Gereja dan Dunia 2014 (209), Berita Gereja dan Dunia 2015 (93), Berita GPIB Immanuel Bekasi (28), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2011 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2012 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2014 (60), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2015 (63), Bidang Teologi (13), Catatan Dari Meja Pendeta (196), Informasi Kantor Sekretariat (5), Jemaat Sakit Mohon Dukungan DOA (43), Kalender Kegiatan Harian (13), Kegiatan Hari Ini (851), Logo Kain Mimbar (9), Materi Katekisasi (48), Materi Khotbah (10), Materi Pembinaan Jemaat Download (2), Pelayan Firman di Gereja (159), Pelengkap Kidung Jemaat (119), Pembinaan Warga Gereja (16), Peraturan Gereja (10), Perpustakaan Rohani (290), Perpustakaan Rohani 2 (78), Renungan SBU Malam (331), Renungan SBU Malam 2013 (369), Renungan SBU Malam 2014 (368), Renungan SBU Malam 2015 (211), Renungan SBU Pagi (331), Renungan SBU Pagi 2013 (366), Renungan SBU Pagi 2014 (368), Renungan SBU Pagi 2015 (211), SMS dari Pendeta (125), Tentang GPIB Immanuel Bekasi (19), Warta Jemaat (2)
Minggu, 19 Nopember 2017

WARTA JEMAAT 2017


Selamat Ulang Tahun
Hari ini tanggal: 22.11.2017

NamaSektor
Ibu. LENA GUNAWAN1
Adik SARAH OCTAVIANA NOYA3
Sdri MARENSYE FIATRE AKYUWEN4
Adik ANGELA IRENE SETIAWAN MANDEY7
Bp. YULIUS KILANMASSE8
Bp. RAYMOND OSCAR HAHIJARY9
... bulan ini selengkapnya
Selamat Ultah Perkawinan
Hari ini tanggal: 22.11.2017

Suami-IsteriSektor
Bp. FERDI JULIAN & Ibu. CHANTIKA AUGUSTINE KRISTIANI8
... bulan ini selengkapnya






Sub Kategori Berita Gereja dan Dunia 2017: