View : 1782 kali


Peraturan Gereja
Kamis, 24 Mei 2012

BAB II | PERGUMULAN GPIB

Latar Belakang

Dalam kehadirannya di dunia, Gereja memiliki tanggung jawab dan kewajiban, seperti yang diamanatkan Allah (Iih. Kej. 1 : 1 - 29; Mark. 16: 15), yaitu mengusahakan kesejahteraan bagi dirinya maupun terhadap sesama sebagai tindak nyata melanjutkan misi Allah, seperti pengakuan dalam Firman yang disampaikan oleh Almarhum Pdt. B.A. Supit saat peresmian kemandirian GPIB pada 31 Oktober 1948, yang menegaskan bahwa kehadiran GPIB adalah kehendak dan diberkati Allah (Keluaran 33 : 15). Perjalanan GPIB secara teologis dan berdasar pada misi Allah diharapkankan dapat mengemukakan Kerajaan-Nya yang disaksikan oleh umat, sehingga semua orang dari Barat, Timur, Utara dan Selatan dapat duduk makan bersama dalam persekutuan kerajaan-Nya (Lukas 13:29).

Semangat Gereja yang dipanggil dan diutus Allah dalam memberitakan Injil (bdk. Mat 28:29-30) sebagai kabar sukacita dan selamat kepada umat, bahkan kepada segala makhluk (bdk. Markus 16:16), mestinya menjadi spiritualitas GPIB untuk menuju jemaat dan gereja yang misioner, mandiri serta esa bagi semua.

Saat ini, kehadiran Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), sebagai Gereja Mandiri dari lingkungan Gereja Protestan di Indonesia (GPI) telah bertumbuh dan berkembang selama 62 tahun di negeri Nusantara, dengan segala kemajuan-keberhasilan dan kekurangan--kelemahan. Salah satu cara membuktikan adanya pertumbuhan GPIB adalah dengan meninjau dan mengkaji landasan operasionalnya, yaitu ketetapan tentang Panggilan dan Pengutusan Gereja (PPG).

Tanggungjawab dan kewajiban yang biasa disebut sebagai Panggilan dan Pengutusan Gereja (PPG), perlu selalu dievaluasi dan dikaji kembali demi kesinambungan dan relevansinya. PPG GPIB yang ditetapkan dalam Pokok-pokok Kebijakan Umum disingkat PKUPPG GPIB (dulu : GBKUPG / Garis-garis Besar Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja), telah berlangsung dalam tiga tahapan. Pada tahapan ketiga ini, yaitu 20 tahun sebagai langkah Jangka panjang pertama GPIB (1986-2006), diharapkan GPIB telah mengalami pembaruan dan keberhasilan dalam pencapaian MISI dengan terang VISI (bdk. VISI dan Misi Pembaruan GPIB, dok.PS. XVII 2000, di Kinasih). Menjadi manusia baru adalah hasil akhir yang didasari pada saat GPIB berada pada akhir tahap ketiga.

Pada tahapan keempat, yaitu memasuki masa 20 tahun sebagai langkah jangka panjang kedua, GPIB diharapkan dapat mengalami pembangunan Gereja Misioner yang bercirikan sifat terus membaharui dan melakukan pembaruan, sebagaimana gereja hadir untuk senantiasa baru dan diperbaharui (semboyan : "ecclesia reformata semper reformanda). Pembangunan Gereja Misioner diharapkan selalu dalam warna dan corak manusia baru, dimana selalu ada kekuatan misi Allah yang bertumbuh dalam terang cita-cita gereja masa depan. Missio Dei dilakukan Kristus, dan Gereja melakukan misi Kristus : " ... sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yohanes 20:21).

Sejarah kehadiran GPIB dapat dilihat dari sejarah perkembangan pertumbuhannya, yang dilihat menurut periode waktu, yaitu :

(1) Tahun 1948-1966 sebagai tahapan konsolidasi GPIB. Pada masa ini GPIB menjalankan amanat pembentukannya dengan melakukan tugas pemeliharaan jiwa dan pelayanan ibadah terhadap orang Belanda dan Indonesia.
(2) Tahun 1966-1986 sebagai tahapan awal menuju Jemaat Misioner, dimana almarhum Pdt. D.R. Maitimoe menggagas GPIB sebagai gereja misioner. Gereja Misioner dimengerti sebagai gereja yang meneruskan misi Allah yang telah dikaryakan Yesus Kristus.
(3) Dengan kesadaran akan maksud gereja misioner yang harus menjawab konteks masyarakat dan bangsa, maka pada tahun 1986-2006 ditetapkan sebagai tahapan pertumbuhan memasuki Jemaat Misioner dalam PKUPPG / GBKUPG Jangka Panjang tahap I, dan kemudian pada PKUPPG Jangka Panjang tahap II.
(4) Tahun 2006-2026, yang akan datang, merupakan kesempatan bagi GPIB untuk hadir sebagai gereja yang membangun dan mengembangkan Gereja Misioner, yaitu Gereja yang mengalami sungguh-sungguh damai sejahtera Yesus Kristus dan menjadi Gereja yang membawa damai sejahtera Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat bahkan dunia.

Dari catatan-catatan yang ada, jelas bahwa mulai pada Persidangan Sinode GPIB XII/1978 sudah tersusun rancangan Garis-garis Besar Kebijakan Umum Pelayanan Gereja (GBKUPG), Selanjutnya terjadi pengembangan pemikiran yang khas, yakni: dilayani untuk dapat melayani. Berikut terjadi perkembangan yang menarik:
(1) Pandaan, PS XIII/1982, kata 'pelayanan' menjadi panggilan: GBKUPG
(2) Denpasar, PS XIV/1986, Tata Dasar 1982 Bab II Pasal 5, 6: panggilan dan pengutusan Bab III Pasal 10 GBKUPPG belum terjadi penyerasian, perumusan akhir.
(3) Ujung Pandang, PS XV/1990, dan Bandung PS XVI/1995 tetap GBKUPG, dan ditetapkan Rancangan Induk untuk 4 x 4 tahun (1986-2002) mengalami perubahan masa tugas Sinodal Majelis Sinode menjadi 5 tahun (1995 - 2000)
(4) Bandung PSI/1996, GBKUPG berubah menjadi PKUPPG (Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja: lihat Tata Dasar, Buku Biru 1996, Pasal 7.
(5) Bogor-Kinasih, PS XVII/2000, Buku Ketetapan belum terbit tapi draft ada di beberapa jemaat GPIB.
(6) Proses perkembangan yang dikatakan diatas mendorong Panitia Materi, PKUPPG PS XVIII/2005 untuk mengevaluasi kegiatan pelayanan dan kesaksian GPIB yang terjabar dalam 10 bidang pelayanan dari PKUPPG terdahulu.

Tantangan Pelayanan Yang Dihadapi GPIB

GPIB hadir sebagai Gereja mandiri ditengah situasi revolusi, dimana bangsa Indonesia berusaha untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan. Semangat merdeka yang khas abad XX pasti ikut mempengaruhi kehadiran dan pelayanannya. Bisa dimengerti bahwa dalam perjalanannya, GPIB ikut serta secara langsung mengalami pasang-surut yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu maka GPIB dituntut untuk senantiasa menyadari tantangan-tantangan yang dihadapinya. Tantangan itu bisa muncul sebagai tantangan eksternal dan tantangan internal. Tentu saja kedua jenis tantangan ini berhubungan satu dengan yang lain, bahkan sering terjadi tantangan eksternal itu dengan sendirinya adalah tantangan internal Gereja sendiri, karena gereja memang harus ada dalam dunia sekalipun bukan dari dunia. Gereja harus mengembangkan diri agar mampu menjawab seluruh tantangan itu.

Tantangan Eksternal.
Pada dasarnya tantangan eksternal yang dihadapi oleh Gereja adalah keseluruhan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat khususnya masyarakat Indonesia dan dunia umumnya, yang membentuk persepsi masyarakat terhadap Gereja itu sendiri. Tantangan ini perlu disadari oleh Gereja, sebab Gereja memang diutus ke dalam dunia dan harus hadir dalam dunia sekalipun bukan dari dunia. Globalisasi telah membuat batas antara masyarakat secara khusus di mana Gereja hadir dan dunia secara umum menjadi makin samar.

Dengan tetap terbuka terhadap seluruh perubahan dan perkembangan yang mungkin akan terjadi, kita menyadari sejumlah tantangan yang dihadapi Gereja dari sisi
A. eksternal, antara lain:
1. Penyalah gunaan kemajuan IPTEK utamanya globalisasi melalui teknologi informasi, yang berdampak negatif di berbagai bidang kehidupan. Dampak negatif ini muncul dalam penyalahgunaan dalam bidang Bioteknologi, penyalahgunaan Narkoba, penyakit-penyakit yang muncul sebagai akibat pergaulan bebas, dan konsumerisme telah melanda masyarakat secara keseluruhan.
2. Terorisme sebagai bagian dari metode pencapaian tujuan oleh berbagai pihak untuk memaksakan kehendak. Terorisme ini muncul dalam berbagai bentuk, dari demonstrasi masa sampai bom bunuh diri.
3. Kebijaksanaan Pemerintah dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang sarat dengan memuat kepentingan golongan dan agama tertentu. Hal ini muncul dalam bentuk produk hukum, seperti hukum perkawinan, SISDIKNAS, Desentralisasi dan otonomi luas Pemda yang berdampak pemberlakuan hukum agama tertentu, juga SK Bersama Menteri.
4. Rendahnya mutu sumber daya manusia, yang membuahkan perilaku Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Secara khusus perlu diperhatikan bahwa Indonesia masih termasuk negara yang perilaku KKN nya tertinggi di dunia.
5. Eksklusivisme primordial dalam berbagai gerakan dan kegiatan yang mengatas-namakan agama tertentu yang muncul dalam bentuk fatwa anti pluralitas, diskriminasi terhadap golongan dan agama minoritas yang menciderai demokrasi. Hal ini nampak dalam bentuk tindakan-tindakan kekerasan terhadap agama minoritas, dari paksaan pelarangan peribadahan, sampai pengeboman rumah ibadah.
6. Pemahaman 'teologi-sukses' yang dianut berbagai Gerakan kharismatik menyuburkan kapitalisme dan sifat konsumerisme yang menjalar kesemua lini kehidupan masyarakat.

B. Tantangan Internal
1. Pada dasarnya tantangan internal adalah pandangan gereja terhadap dirinya sendiri dan pandangan Gereja terhadap dunia. Kedua hal ini menentukan persepsi Gereja terhadap panggilan dan pengutusannya yang kemudian kelihatan dalam program dan kegiatan pelayanannya. Dengan tetap terbuka terhadap semua upaya pembenahan yang terjadi dalam Gereja sendiri, kita menyadari sejumlah tantangan yang dihadapi Gereja dari sisi internal, antara lain:
2. Terlalu menekankan urusan dan kepentingan internal sehingga kurang peka dalam menanggapi dan mengantisipasi masalah-masalah sosial, lingkungan hidup dan berbagai gangguan eksternal.
3. Kepemimpinan gereja tertutup serta tertimbun oleh rutinisme, formalisme dan verbalisme, dan tampak menjadi gereja yang eklusif. 4. Individualisme yang besar yang membuat ikatan komunal menjadi renggang.
5. Warga Gereja yang mudah beralih ke denominasi dan agama lain. 6. Perangkat pranata yang lengkap tetapi disertai penerapan yang kaku dan seragam sehingga pranata itu bukan lagi menjadi alat atau pedoman tetapi menjadi tujuan gereja; yang karenanya cenderung membatasi kebebasan dan rasa damai sejahtera warga jemaat.
7. GPIB belum memiliki sistim yang efektif dan efisien dalam Pembinaan Pendidikan Latihan dan Karir.
8. Belum ada sistim informasi yang didukung teknologi yang dapat mempermudah pengendalian Jemaat yang tersebar di 25 propinsi. 9. Belum diberdayakan potensi SDI dan harta milik gereja yang tersebar di seluruh wilayah pelayanan serta berbagai instansi dan keahlian.

Karena tantangan dan ancaman khas abad XXI di tengah konteks global yang berciri perubahan, baik itu sistim pemerintahan, sosio-kultural, sosio-politik, sumber daya, pendidikan, ekonomi, keamanan serta lintas agama-agama, sangat mempengaruhi pertumbuhan gereja dimana gereja berada maka gereja pun dituntut memiliki ketrampilan dan kecerdasan serta semangat, sebagai potensi SDI (sumber daya insani) yang oleh Allah senantiasa dianugerahkan Allah bagi umat-Nya. Oleh sebab itu upaya mengembangkan SDI bagi GPIB melalui pembinaan warga gereja (PWG) selalu menjadi benang merah gereja dalam memenuhi misi Yesus Kristus.

Hasil evaluasi ini telah memberikan cermin kekuatan GPIB. Kekuatan itu antara lain terletak pada perangkat Pranata Gerejawi yaitu Pemahaman Iman, Tata Gereja, Akta Gereja, Tata Ibadah, PKUPPG dan ketetapan-ketetapan Gereja lainnya. Kekuatan lain adalah wilayah pelayanan yang cukup luas yakni tersebar di 25 provinsi di kawasan Indonesia barat, tengah dan timur. Berikut yang harus dicatat sebagai kekuatan adalah warga gereja yang beraneka ragam latar belakang sosial-ekonomi, budaya dan tingkat pendidikan, juga berbagai kategori fungsional dan profesional dari berbagai kelompok usia.

Akan tetapi juga harus diwaspadai kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan dan perlu diperhatikan antara lain: Warga jemaat kurang memahami, menghayati Pemahaman Iman (PI) GPIB. Hal ini mengakibatkan pelayanan dan kesaksian yang berasaskan Presbiterial Sinodal mengalami distorsi. Distorsi ini menghasilkan sikap pelayanan jemaat yang berorientasi pada kepentingan Jemaat sendiri. Muncul persoalan misalnya BPK bukan sasaran pelayanan tetapi sebagai pelaksana pelayanan. Bidang Germas yang penting malah dinomor-duakan. Juga jelas sekali bahwa bahwa soal organisasi dan komunikasi (Orkom) belum berjalan dengan baik. Selain itu Bidang Umum juga tidak jelas kegiatannya pada tatanan dan fungsi Gereja. Gambaran situasinya khusus tentang kekurangan dan keberhasilan untuk sepuluh bidang dari PKUPPG terdahulu adalah sebagai berikut:


Evaluasi analitis di atas mengisyaratkan bahwa pergumulan karena kepelbagaian latar belakang umat merupakan peluang tetapi sekaligus perlu diwaspadai kelemahan dan ancaman untuk terhadap pembangunan persekutuan. Jawaban terhadap hal ini secara konsepsional adalah: Yesus Kristus sumber damai sejahtera. Tugas GPIB dalam membangun persekutuan yang berasas Presbiterial Sinodal harus dapat memberdayakan penelitian dan pengkajian ulang dalam rancang bangun pertumbuhan jemaat, supaya tercapai tujuan memisionerkan umat sebagaimana terkandung pada hakekat GPIB.

Perelevansiannya secara bertahap sesuai dengan arahan PKUPPG sebagai Kerangka Operasional. Inilah yang menjadi penuntun bagi program-program Gereja.


Label:  PKUPPG GPIB 


Arsip Peraturan Gereja:

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
P E N G A N T A R

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB I | PENDAHULUAN

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB III | MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN GEREJA MISIONER

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB IV | POKOK POKOK KEBIJAKAN UMUM PANGGILAN DAN PENGUTUSAN GEREJA (PKUPPG)

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB V | PKUPPG JANGKA PANJANG II (2006 - 2026)

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB VI | PELAKSANAAN

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB VII | KEBIJAKAN UMUM PANGGILAN DAN PENGUTUSAN GEREJA TAHUN 2006 - 2011

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB VIII | KONSEP RANCANGAN UMUM KUPPG-GPIB JANGKA PENDEK II TAHUN 2011 - 2016

Kamis, 24 Mei 2012
Peraturan Gereja
BAB IX | P E N U T U P

Arsip Peraturan Gereja..




Last Searches:

Kategori Utama: Artikel dari Majelis Sinode GPIB (226), Artikel Rohani (23), Berita Gereja dan Dunia (1331), Berita Gereja dan Dunia 2012 (47), Berita Gereja dan Dunia 2013 (412), Berita Gereja dan Dunia 2014 (209), Berita Gereja dan Dunia 2015 (93), Berita GPIB Immanuel Bekasi (28), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2011 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2012 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2014 (60), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2015 (63), Bidang Teologi (13), Catatan Dari Meja Pendeta (196), Informasi Kantor Sekretariat (5), Jemaat Sakit Mohon Dukungan DOA (43), Kalender Kegiatan Harian (13), Kegiatan Hari Ini (851), Logo Kain Mimbar (9), Materi Katekisasi (48), Materi Khotbah (10), Materi Pembinaan Jemaat Download (2), Pelayan Firman di Gereja (159), Pelengkap Kidung Jemaat (119), Pembinaan Warga Gereja (16), Peraturan Gereja (10), Perpustakaan Rohani (290), Perpustakaan Rohani 2 (78), Renungan SBU Malam (331), Renungan SBU Malam 2013 (369), Renungan SBU Malam 2014 (368), Renungan SBU Malam 2015 (211), Renungan SBU Pagi (331), Renungan SBU Pagi 2013 (366), Renungan SBU Pagi 2014 (368), Renungan SBU Pagi 2015 (211), SMS dari Pendeta (125), Tentang GPIB Immanuel Bekasi (19), Warta Jemaat (2)
Minggu, 10 Maret 2019

WARTA JEMAAT 10 Maret 2019


Minggu, 19 Mei 2019

MINGGU, 19 MEI 2019


Minggu, 19 Mei 2019

MINGGU, 26 MEI 2019


Minggu, 19 Mei 2019

KAMIS, 30 MEI 2019 (KENAIKAN YESUS KRISTUS)



Selamat Ulang Tahun
Hari ini tanggal: 20.05.2019

NamaSektor
... bulan ini selengkapnya
Selamat Ultah Perkawinan
Hari ini tanggal: 20.05.2019

Suami-IsteriSektor
... bulan ini selengkapnya





Sub Kategori Peraturan Gereja: