View : 86 kali


Berita Gereja dan Dunia 2019
Minggu, 22 Maret 2020

Penjelasan Para Ilmuwan soal Sifat Virus Corona dan Penyebarannya yang Ekstrem

Penjelasan Para Ilmuwan soal Sifat Virus Corona dan Penyebarannya yang Ekstrem

Penyebaran virus corona tengah menjadi ancaman serius dunia. Sejak pertama dilaporkan pada akhir 2019, virus itu telah menginfeksi lebih dari seperempat juta orang. Belum banyak pengetahuan tentang wabah virus corona menjadi salah penyebab penyebaran yang ekstrem di ratusan negara di dunia. Sedikit kabar baiknya adalah virus corona bisa dihancurkan oleh sabun dengan pencucian tangan selama 20 detik. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa virus corona bisa bertahan di udara selama beberapa waktu, bergantung pada panas dan kelembabannya.

Selain itu, virus tersebut juga bisa bertahan selama satu hari di permukaan kertas karton serta dua hingga tiga hari pada permukaan baja dan plastik. Namun, masih sangat banyak informasi yang belum jelas soal virus yang bermula di Kota Wuhan, provinsi Hubei, China itu. Perlu diketahui bahwa virus corona atau SARS-CoV-2 bukanlah flu. Virus corona menyebabkan penyakit dengan gejala yang berbeda, menyebar dan membunuh lebih mudah serta berasal dari keluarga virus yang sama sekali berbeda dengan penyebab flu biasa.

Bentuk Virus
Angela Rasmussen dari Columbia University mengatakan, struktur virus corona memberikan petunjuk bagaimana virus itu menyebar begitu cepat. Menurutnya, virus corona berbentuk bola runcing, seperti paku. Paku-paku itu kemudian mengenali dan menempel pada protein ACE2 yang ada pada permukaan sel manusia. Ini menjadi langkah awal menuju infeksi. ACE2 adalah enzim yang menjadi perantara perubahan angiotensin atau hormon untuk mengerutkan pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. ACE2 adalah tempat masuknya beberapa jenis virus corona ke dalam sel tubuh manusia, termasuk SARS-CoV yang menyebabkan SARS.

"Kontur yang tepat memungkinkan SARS-CoV-2 untuk menempel jauh lebih kuat pada ACE2 dari pada yang dilakukan SARS-klasik," kata Angela, dilansir dari The Atlantic. "Kemungkinan ini sangat penting untuk penularan dari orang ke orang. Secara umum, semakin ketat ikatannya, semakin sedikit virus yang diperlukan untuk memulai infeksi," sambungnya. Sementara itu, seorang ilmuwan dari Scripps Research Translational Institute Kristian Andersen menyebut, paku pada virus corona terdiri dari dua bagian yang terhubung. Lonjakan jumlah virus akan aktif ketika bagian tersebut dipisahkan.

Dalam SARS-klasik, pemisahan ini terjadi dengan beberapa kesulitan. Tetapi dalam SARS-CoV-2, jembatan penghubung kedua bagian dapat dengan mudah dipotong oleh enzim furin yang dibuat oleh sel manusia. "Ini mungkin penting untuk beberapa hal yang benar-benar tidak biasa yang kita lihat dalam virus ini," kata Andersen.

Sifat virus Sebagai contoh, sebagian besar virus pernapasan cenderung menginfeksi saluran udara bagian atas atau bawah. Secara umum, infeksi saluran pernapasan atas lebih mudah menyebar, tetapi cenderung lebih ringan. Sementara infeksi saluran pernapasan bawah lebih sulit ditularkan, tetapi lebih parah. Menurut Andersen, SARS-CoV-2 tampaknya menginfeksi saluran udara bagian atas dan bawah, mungkin karena dapat mengeksploitasi furin di mana-mana.

Saat virus tersebut berada di dalam tubuh, mereka akan menyerang sel-sel ACE2 yang melapisi saluran saluran udara manusia. SARS-CoV-2 tampaknya menginfeksi saluran udara bagian atas dan bawah, mungkin karena dapat mengeksploitasi furin di mana-mana. Ketika infeksi berlanjut, paru-paru tersumbat dengan sel-sel mati dan cairan serta membuat pernapasan menjadi lebih sulit. Dalam kondisi ini, sistem kekebalan tubuh akan melawan dan menyerang virus, sehingga menyebabkan peradangan dan demam. Tetapi dalam kasus yang ekstrem, sistem kekebalan tubuh mengamuk, menyebabkan kerusakan lebih dari virus yang sebenarnya.


Reaksi tubuh terhadap virus

Reaksi berlebihan yang merusak ini disebut badai sitokin. Mereka secara historis bertanggung jawab atas banyak kematian selama pandemi flu 1918, wabah flu burung H5N1, dan wabah SARS 2003. Selama badai sitokin, sistem kekebalan tubuh tidak hanya mengamuk tetapi juga umumnya tidak aktif, menyerang sesuka hati tanpa mengenai target yang tepat.

Badai sitokin juga dapat mempengaruhi organ-organ lain selain paru-paru, terutama jika orang sudah memiliki penyakit kronis. Ini mungkin menjelaskan mengapa beberapa pasien Covid-19 berakhir dengan komplikasi seperti masalah jantung dan infeksi sekunder. Studi pemodelan terbaru menyimpulkan bahwa SARS-CoV-2 dapat berkembang biak setiap sepanjang tahun.

"Saya tidak memiliki kepercayaan diri yang besar bahwa cuaca akan memiliki efek seperti yang orang harapkan. Kecuali orang dapat memperlambat penyebaran virus dengan tetap berpegang pada rekomendasi social distancing, musim panas saja tidak akan menyelamatkan kita," kata Lisa Gralinski, ilmuwan dari University of North Carolina.

source: kompas.com





Arsip Berita Gereja dan Dunia 2019:

Kamis, 9 April 2020
Berita Gereja dan Dunia 2019
Terang Paskah di Tengah Pandemi Covid-19

Minggu, 22 Maret 2020
Berita Gereja dan Dunia 2019
PGI Imbau Tiadakan Ibadah di Gereja Selama Dua Pekan Sejak 16 Mar 2020

Minggu, 22 Maret 2020
Berita Gereja dan Dunia 2019
Sekte Sesat yang Pemimpinnya Mengaku Pakai Jubah Yesus Dianggap Asal Virus Corona di Korsel

Senin, 10 Februari 2020
Berita Gereja dan Dunia 2019
165 tahun Injil di Papua

Rabu, 25 Desember 2019
Berita Gereja dan Dunia 2019
Pendeta GPIB Immanuel Tekankan Pesan Toleransi Antarumat Beragama

Rabu, 25 Desember 2019
Berita Gereja dan Dunia 2019
Kota Betlehem

Sabtu, 21 Desember 2019
Berita Gereja dan Dunia 2019
Ini Jadwal Kebaktian Malam Natal dan Hari Natal di Gereja GPIB Immanuel Jakarta

Sabtu, 30 November 2019
Berita Gereja dan Dunia 2019
Peringati Hari Toleransi, GPIB Immanuel Semarang Selenggarakan Pagelaran Seni Nusantara

Sabtu, 23 November 2019
Berita Gereja dan Dunia 2019
Sejarah Berdirinya GPIB Zebaoth Bogor, Berusia 100 Tahun Dulunya Disebut Gereja Ayam

Selasa, 16 Juli 2019
Berita Gereja dan Dunia 2019
Doa Bukan untuk Mengubah Keadaan Saya Tapi Mengubah Sikap Saya

Arsip Berita Gereja dan Dunia 2019..




Last Searches:

Kategori Utama: Artikel dari Majelis Sinode GPIB (226), Artikel Rohani (23), Berita Gereja dan Dunia (1331), Berita Gereja dan Dunia 2012 (47), Berita Gereja dan Dunia 2013 (412), Berita Gereja dan Dunia 2014 (209), Berita Gereja dan Dunia 2015 (93), Berita GPIB Immanuel Bekasi (28), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2011 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2012 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2014 (60), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2015 (63), Bidang Teologi (13), Catatan Dari Meja Pendeta (196), Informasi Kantor Sekretariat (5), Jemaat Sakit Mohon Dukungan DOA (43), Kalender Kegiatan Harian (13), Kegiatan Hari Ini (851), Logo Kain Mimbar (9), Materi Katekisasi (48), Materi Khotbah (10), Materi Pembinaan Jemaat Download (2), Pelayan Firman di Gereja (159), Pelengkap Kidung Jemaat (119), Pembinaan Warga Gereja (16), Peraturan Gereja (10), Perpustakaan Rohani (290), Perpustakaan Rohani 2 (78), Renungan SBU Malam (331), Renungan SBU Malam 2013 (369), Renungan SBU Malam 2014 (368), Renungan SBU Malam 2015 (211), Renungan SBU Pagi (331), Renungan SBU Pagi 2013 (366), Renungan SBU Pagi 2014 (368), Renungan SBU Pagi 2015 (211), SMS dari Pendeta (125), Tentang GPIB Immanuel Bekasi (19), Warta Jemaat (2)