View : 744 kali


Catatan Dari Meja Pendeta
Jumat, 16 Agustus 2013

LUBANG JARUM ANTHONY DE MELLO (Apa yang bisa dilakukan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan?)

Pendeta Ny. Maria Yulietta Silahooij,S.Th,M.Pd.K

Mencari kelekatan tanpa ketidakbahagiaan sama seperti mencari air yang tidak basah. Tak pernah ada manusia yang bisa menciptakan resep mempertahankan kelekatan tanpa perjuangan, rasa cemas, rasa takut dan, cepat atau lambat, kekalahan. Hanya ada satu cara untuk memenangkan pertempuran melawan kelekatan: Buang semua kelekatan Anda.

Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah - Markus 10:25

Apa yang bisa dilakukan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan? Tidak ada yang bisa Anda atau orang lain lakukan. Mengapa?

Karena alasan sederhana bahwa saat ini Anda sudah bahagia. Bagaimana mungkin Anda memperoleh apa yang sudah Anda miliki? Nah, kalau begitu, mengapa Anda tidak merasakan kebahagiaan yang sudah menjadi milik Anda itu? Karena pikiran Anda terus menerus menciptakan ketidakbahagiaan.

Buang ketidakbahagiaan pikiran Anda itu maka kebahagiaan yang selalu Anda miliki akan langsung muncul ke permukaan.

Bagaimana cara membuang ketidakbahagiaan? Carilah penyebabnya dan tatap dalam-dalam. Hal itu akan dengan sendirinya rontok.

Nah, apabila mengamatinya dengan teliti, Anda akan melihat bahwa hanya ada satu hal yang menyebabkan ketidakbahagiaan. Nama hal itu adalah Kelekatan. Apa itu kelekatan? Suatu kondisi lengket emosional yang disebabkan keyakinan bahwa tanpa benda atau orang tertentu, Anda tidak bisa bahagia. Kondisi lengket emosional ini terdiri dari dua unsur, negatif dan positif. Yang positif merupakan sekelebat rasa nikmat dan gairah, sensasi yang Anda rasakan ketika memperoleh objek kelekatan Anda. Yang negatif adalah rasa terancam dan tegang yang selalu mengiringi kelekatan itu. Bayangkan orang yang sedang melahap makanan di kamp konsentrasi; dengan satu tangan dia membawa makanan itu ke mulut, dengan tangan yang lain dia melindunginya dari orang-orang yang akan merampasnya begitu dia lengah.

Nah, itulah gambaran sempurna orang yang melekat. Jadi, kelekatan pada dasarnya memang membuat Anda rentan terhadap guncangan emosional dan selalu mengancam akan menghancurkan kedamaian Anda. Jadi, bagaimana mungkin Anda berharap orang yang melekat bisa memasuki samudra kebahagiaan yang disebut kerajaan Tuhan? Sama seperti mengharapkan seekor unta bisa melewati lubang jarum!

Nah, tragedi kelekatan adalah apabila objeknya tidak tercapai, akan timbul ketidakbahagiaan. Namun, apabila tercapai, tidak akan muncul kebahagiaan - hanya ada sekelebat rasa nikmat yang diikuti oleh rasa lelah. Dan, tentu saja, hal itu diiringi kecemasan bahwa Anda akan kehilangan objek kelekatan Anda. Anda akan berkata, "Tak bisakah saya menyimpan satu saja kelekatan?" Tentu saja, Anda bisa menyimpan sebanyak yang Anda mau. Namun, untuk setiap kelekatan, Anda membayarnya dengan kehilangan kebahagiaan Anda.

Coba pikir. Sifat dasar kelekatan sedemikian rupa sehingga meskipun Anda memenuhi banyak kelekatan dalam satu hari, satu kelekatan yang tidak terpuaskan akan menggerogoti pikiran Anda dan membuat Anda tidak bahagia. Anda tidak mungkin menang dalam pertempuran melawan kelekatan.

Mencari kelekatan tanpa ketidakbahagiaan sama seperti mencari air yang tidak basah. Tak pernah ada manusia yang bisa menciptakan resep mempertahankan kelekatan tanpa perjuangan, rasa cemas, rasa takut dan, cepat atau lambat, kekalahan.

Hanya ada satu cara untuk memenangkan pertempuran melawan kelekatan: Buang semua kelekatan Anda. Berlawanan dengan pendapat umum, membuang kelekatan itu mudah. Yang perlu Anda lakukan, hanyalah melihat, benar-benar melihat, kebenaran-kebenaran berikut:

Kebenaran pertama: Anda berpegang pada keyakinan yang salah, yaitu keyakinan bahwa tanpa orang atau benda tertentu, Anda tidak akan bahagia. Amati semua kelekatan Anda satu per satu dan lihatlah kekeliruan keyakinan Anda itu. Anda mungkin akan mendapat perlawanan dari hati Anda, tapi begitu Anda bisa melihat, hasilnya akan langsung terasa. Pada saat itu juga, kelekatan Anda akan kehilangan kekuatan.

Kebenaran kedua:
Apabila hanya menikmati berbagai hal, tidak membiarkan diri Anda melekat pada semua itu, Anda takkan mengalami semua perjuangan dan ketegangan emosional akibat upaya-upaya melindungi serta menjaga kelekatan Anda. Pernahkah terpikir bahwa Anda bisa menyimpan semua objek kelekatan Anda serta tidak perlu membuangnya, tidak perlu menyangkalnya, dan Anda bisa semakin menikmatinya tanpa didasari kelekatan, kelengketan, karena sekarang Anda merasa damai serta relaks dan tidak terancam saat menikmatinya?

Kebenaran ketiga dan terakhir:
Apabila belajar menikmati aroma seribu bunga, Anda takkan lengket pada satu bunga atau menderita ketika tidak bisa memperolehnya. Apabila Anda punya seribu makanan favorit, hilang satu takkan terasa dan kebahagiaan Anda takkan terganggu. Namun, justru kelekatan Anda-lah yang menghalangi Anda untuk mengembangkan selera yang lebih luas dan beragam dalam berbagai hal serta orang.

Dalam terang ketiga kebenaran itu, tidak ada kelekatan yang bisa bertahan. Namun, terang itu harus bersinar terus-menerus agar bisa efektif. Kelekatan hanya bisa tumbuh subur dalam kegelapan ilusi.

Orang kaya tidak bisa memasuki kerajaan sukacita bukan karena dia ingin jadi jahat, melainkan karena dia memilih untuk jadi buta.


Pendeta Ny. Maria Yulietta Silahooij,S.Th,M.Pd.K





Arsip Catatan Dari Meja Pendeta:

Minggu, 16 Februari 2020
Catatan Dari Meja Pendeta
JANJI TUHAN ADALAH KEKUATAN YANG MENGGERAKKAN

Minggu, 15 Desember 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
MANUSIA BERKESEMPATAN UNTUK HIDUP DI DALAM DAMAI SEJAHTERA

Minggu, 01 Desember 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
MEMURNIKAN DAN MEMBAWA SEJAHTERA

Minggu, 24 Nopember 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
TANTANGAN HIDUP MEMBUAHKAN BERKAT

Minggu,10 Nopember 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
HIDUP DALAM PERBEDAAN GENERASI

Minggu, 27 Oktober 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
ALLAH PEDULI DAN PENUH BELAS KASIHAN

Minggu, 13 Oktober 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
HUT KE-9 PELKAT PERSEKUTUAN KAUM LANJUT USIA GPIB

Minggu, 11 Agustus 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
PERSEPULUHAN

Minggu, 04 Agustus 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
PERSEPULUHAN

Minggu, 21 Juli 2019
Catatan Dari Meja Pendeta
Pesan Majelis Sinode GPIB Dalam Rangka HUT ke 38 Pelkat PKB GPIB

Arsip Catatan Dari Meja Pendeta..




Last Searches:

Kategori Utama: Artikel dari Majelis Sinode GPIB (226), Artikel Rohani (23), Berita Gereja dan Dunia (1331), Berita Gereja dan Dunia 2012 (47), Berita Gereja dan Dunia 2013 (412), Berita Gereja dan Dunia 2014 (209), Berita Gereja dan Dunia 2015 (93), Berita GPIB Immanuel Bekasi (28), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2011 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2012 (5), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2014 (60), Berita GPIB Immanuel Bekasi 2015 (63), Bidang Teologi (13), Catatan Dari Meja Pendeta (196), Informasi Kantor Sekretariat (5), Jemaat Sakit Mohon Dukungan DOA (43), Kalender Kegiatan Harian (13), Kegiatan Hari Ini (851), Logo Kain Mimbar (9), Materi Katekisasi (48), Materi Khotbah (10), Materi Pembinaan Jemaat Download (2), Pelayan Firman di Gereja (159), Pelengkap Kidung Jemaat (119), Pembinaan Warga Gereja (16), Peraturan Gereja (10), Perpustakaan Rohani (290), Perpustakaan Rohani 2 (78), Renungan SBU Malam (331), Renungan SBU Malam 2013 (369), Renungan SBU Malam 2014 (368), Renungan SBU Malam 2015 (211), Renungan SBU Pagi (331), Renungan SBU Pagi 2013 (366), Renungan SBU Pagi 2014 (368), Renungan SBU Pagi 2015 (211), SMS dari Pendeta (125), Tentang GPIB Immanuel Bekasi (19), Warta Jemaat (2)